KKN sebagai Tonggak Pemberdayaan Masyarakat

LP2M Senin, 7 Agustus 2017 10:55 WIB
380x ditampilkan Berita Kkn Pengabdian

BATUAN- Masyarakat pingiran kota merupakan campuran dua kebudayaan antara kota dan desa yang saling bertolak belakang kedudukannnya. Hidup berbaur dalam satu pola kehidupan, tentunya tidak seburuk dan seindah yang dibayangkan orang kebanyakan. Desa Gedungan sebagai salah satu desa di antara beberapa desa yang termasuk di dalamnya.

“Peserta KKN yang ditempatkan di desa pinggiran kota seperti di desa Gedungan tidak semudah dan senyaman dengan mereka yang ditempatkan di daerah pelosok atau desa tulen” tutur Mulyadi Asnawi, selaku ketua Posko XVII, setelah separuh bulan telah mereka lewatkan.

Tentunya hal itu merupakan bentuk respon balik yang mereka rasakan dari hari ke hari dengan berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Tak ada batu yang tak bisa dipecahkan asal kita tahu cara dalam memecahkannya, sebuah komitmen yang mesti dipegang teguh oleh mereka. Sejak hari kamis-26 Juli 2017 mereka mulai bergerak dalam proker untuk memberdayakan masyarakat. Lingkungan bersih tanpa sampah, sebagai inisiatif yang mereka ambil sebagai bentuk sumbangsih mereka kepada desa.

“Lingkungan bersih tanpa sampah, bagi kami bukan lagi sekadar proker yang harus dikerjakan, tapi ajang penunjukan diri atas keberadaan kami di sini,” kata Moh. Hawail pada waktu kegitan berlangsung pada hari Sabtu-05 Agustus 2017. Dan juga tampak dimana peserta posko XVII begitu semengat dalam melaksanakan kegiatan, meskipun keadaan cuaca sekitar Sumenep tidak begitu bersahabat akhir-akhir ini dan peralatan yang kurang memadai.

“Setelah kegiatan ini berlangsung sampai hari ini kami pun menyadari satu hal: bahwa KKN bukan lagi proses pengenalan diri dan berbaur bersama masyarakat tapi proses menunjukkan diri kita selaku orang baru di desa orang, sampai di mana penunjukan diri itu dapat memberikan kesan yang mempunyai tempatnya sendiri di masyarakat,” tambah Ach. Naufal Jazuli di sela-sela kegiatan yang dilakukan.

Selama kegiatan kebersihan lingkungan yang dilakukan, pada akhirnya tampak juga hasil atau respon balik dari masyarkat terhadap keberadaan mereka. Terlihat bagaimana masyarakat mulai ikut berpartisipatif, baik secara materi atau tenaga atas kegiatan mereka.

“Alhamdulillah dengan kegiatan ini, masyarakat mulai membuka diri untuk kami, sehingga semakin memudahkan kami untuk masuk di dalamnya dan mengetahui apa yang ada di desa ini yang bisa dijadikan bekal dalam pendewasaan ilmu yang kami meliki,” tutur Khairil Anwar dengan penuh percaya diri. Keadaan desa juga tampak semakin tertata bersih dengan adanya inisiatif program yang mereka lakukan selama ini, meskipun belum ada jaminan apakah kegiatan seperti yang di lakukan peserta KKN posko XVII akan terus terjaga seusai mereka dari tugas KKN (Posko XVII Gedungan).